Induksi Persalinan
Prosedur medis untuk merangsang kontraksi rahim dan memulai proses persalinan
Prosedur medis untuk merangsang kontraksi rahim dan memulai proses persalinan
- Disproporsi sefalopelvik (bayi terlalu besar, panggul ibu terlalu kecil)
- Plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir)
- Vasa previa (pembuluh darah janin melintang di jalan lahir)
- Posisi janin melintang (transverse lie)
- Riwayat operasi caesar klasik (sayatan vertikal di rahim) atau operasi rahim mayor lainnya
- Herpes genital aktif
- Kanker serviks invasif
- Prolaps tali pusat
- Gawat janin akut
- Riwayat caesar 1-2x dengan sayatan rendah melintang (risiko ruptur uteri 0.5-1%)
- Grande multipara (hamil >5x)
- Presentasi bokong atau posisi janin abnormal lainnya
- Polihidramnion (air ketuban berlebihan)
- Kehamilan kembar
- Makrosomia (bayi sangat besar >4.5 kg)
Penilaian kematangan serviks (Bishop score):
Skor <6: serviks belum matang, perlu pematangan serviks dulu
Skor ≥6: serviks sudah matang, bisa langsung induksi kontraksi
Metode Pematangan Serviks (jika Bishop score <6):
Metode mekanis: Kateter balon Foley (memasukkan balon kecil ke serviks dan mengembangkannya)
Metode farmakologis: Prostaglandin gel/tablet (misoprostol, dinoprostone) dimasukkan ke vagina dekat serviks
Tunggu 6-12 jam untuk pematangan serviks
Evaluasi ulang Bishop score
Induksi Kontraksi:
Pecah ketuban buatan (amniotomi) jika ketuban masih utuh dan serviks sudah terbuka
Pemberian oksitosin intravena (infus) dengan dosis yang ditingkatkan bertahap setiap 30 menit
Monitoring ketat:
CTG kontinyu: memantau detak jantung janin dan kontraksi
Pemeriksaan dalam berkala (setiap 2-4 jam) untuk melihat pembukaan serviks
Monitor tanda vital ibu (tekanan darah, nadi, suhu)
Manajemen nyeri:
Teknik relaksasi dan pernapasan
Epidural analgesia jika diperlukan
Obat pereda nyeri sesuai kebutuhan
Persalinan:
Jika induksi berhasil: persalinan normal melalui vagina
Jika induksi gagal atau ada komplikasi: operasi caesar
Fase aktif dimulai saat pembukaan 6 cm, kemudian fase transisi (8-10 cm), lalu kala II (mengejan)
- Induksi gagal: 15-20% kasus terutama jika serviks belum matang, berujung pada operasi caesar
- Kontraksi terlalu kuat (uterine hyperstimulation): Kontraksi terlalu sering dan kuat bisa menyebabkan gawat janin dan ruptur uteri (sangat jarang)
- Ruptur uteri: Sangat jarang (0.5-1%) terutama pada ibu dengan riwayat operasi rahim sebelumnya
- Perdarahan postpartum: Risiko sedikit lebih tinggi karena rahim terlalu lelah berkontraksi (atonia uteri)
- Infeksi: Terutama jika ketuban pecah lama atau banyak pemeriksaan dalam
- Luka jalan lahir: Episiotomi atau robekan perineum mungkin lebih besar
- Nyeri lebih intens: Kontraksi induksi cenderung lebih kuat dan lebih nyeri dibanding kontraksi spontan
- Emboli air ketuban: Sangat jarang tapi serius
- Gawat janin: Detak jantung abnormal karena kontraksi terlalu kuat
- Persalinan prematur iatrogenik: Jika usia kehamilan salah perhitungan
- Hiperbilirubinemia (kuning): Risiko sedikit lebih tinggi
- Trauma lahir: Patah tulang selangka, cedera pleksus brakialis (jarang)
- Nilai APGAR rendah: Jarang, jika ada gawat janin
- Misoprostol: Hyperstimulasi, ruptur uteri (terutama pada bekas caesar)
- Oksitosin: Hiperstimulasi, intoksikasi air (hiponatremia) jika infus terlalu cepat
- Amniotomi: Prolaps tali pusat, infeksi jika persalinan lama
- Perdarahan hebat (ganti pembalut >1 jam sekali)
- Nyeri perut hebat yang tidak hilang dengan obat
- Demam >38°C
- Lochea (darah nifas) berbau busuk
- Luka jahitan merah, bengkak, bernanah
- Nyeri dada, sesak napas
- Sakit kepala hebat, pandangan kabur
- Bengkak kaki yang makin parah
- Payudara merah, nyeri, demam (mastitis)
- Depresi postpartum yang berat
- Induksi pada usia kehamilan yang tepat (>39 minggu jika elektif)
- Serviks yang sudah matang (Bishop score ≥6)
- Kesabaran - induksi bisa memakan waktu 12-48 jam
- Dukungan pendamping persalinan
- Komunikasi baik dengan tim medis
- Siap mental untuk kemungkinan caesar jika induksi gagal atau ada komplikasi